Antisipasi serangan AS ke Iran, Arab Saudi naikkan produksi minyak - IDN Finansial
Antisipasi serangan AS ke Iran, Arab Saudi naikkan produksi minyak

JAKARTA - Arab Saudi mulai menaikkan produksi minyak sebagai bagian dari rencana darurat jika Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran dan mengganggu arus pasokan global.
Seperti dilaporkan Reuters, Rabu (25/2), sebagai produsen terbesar di OPEC, kerajaan tersebut memposisikan diri sebagai “pemasok andal” yang siap menjalankan peran tradisionalnya sebagai swing producer guna menstabilkan pasar apabila konflik pecah.
Presiden AS Donald Trump, dikutip dari Oilprice, sebelumnya mengungkapkan tengah mempertimbangkan “serangan militer terbatas” terhadap Iran untuk menekan tercapainya kesepakatan nuklir baru.
Di tengah situasi itu, ekspor minyak mentah Arab Saudi melonjak menjadi 7,3 juta barel per hari (bph) dalam 24 hari pertama Februari 2026, level tertinggi sejak April 2023.
Riyadh disebut siap melakukan peningkatan produksi jangka pendek untuk mengimbangi potensi kehilangan pasokan dari Iran atau gangguan di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi distribusi minyak dunia.
Arab Saudi juga dapat memanfaatkan jaringan pipa East-West menuju Laut Merah guna menghindari potensi blokade di Teluk, meski kapasitas cadangannya saat ini diperkirakan sekitar 2,4 juta bph.
Iran, yang memproduksi sekitar 3,2 juta barel per hari atau sekitar 3% dari pasokan global, memperingatkan bahwa setiap serangan militer oleh AS atau sekutunya akan memicu respons cepat dan tegas.
Ketegangan ini memunculkan kekhawatiran bahwa Teheran dapat mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz, yang menangani sekitar 20–30% pengiriman minyak laut dunia.
Ancaman tersebut telah meningkatkan premi risiko geopolitik pada harga minyak.
Sejumlah analis memperingatkan bahwa konflik terbuka bisa memicu lonjakan harga tajam, seperti yang terjadi saat Rusia menginvasi Ukraina empat tahun lalu.
Kenaikan produksi Arab Saudi juga berlangsung ketika OPEC+ tengah mempertimbangkan melanjutkan program pengurangan pembatasan produksi.
Dalam pertemuan 1 Maret mendatang, kelompok tersebut diperkirakan akan membahas kenaikan produksi sebesar 137.000 barel per hari untuk April 2026, setelah sebelumnya menghentikan sementara kenaikan selama tiga bulan pada kuartal pertama 2026 akibat kekhawatiran kelebihan pasokan. (DK)