Mantan Penasihat Trump: Greenland Akan Tetap Menjadi Greenland -
mantan penasihat utama Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa Greenland tidak akan bisa dipaksa untuk
Mantan Penasihat Trump: Greenland Akan Tetap Menjadi Greenland
SERAMBINEWS.COM- Seorang mantan penasihat utama Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa Greenland tidak akan bisa dipaksa untuk berpindah kepemilikan.
Pernyataan itu disampaikan Gary Cohn, mantan Direktur Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih pada masa jabatan pertama Trump, dalam wawancara dengan BBC.
Gary Cohn, yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua IBM, mengatakan secara tegas bahwa “Greenland akan tetap menjadi Greenland”.
Ia menilai wacana Trump terkait wilayah Arktik tersebut tidak akan berujung pada perubahan status Greenland, yang saat ini merupakan wilayah otonom di bawah Denmark.
Baca juga: Denmark Kirim Lebih Banyak Pasukan, Siap Lawan Trump yang Ingin Kuasai Greenland
Menurut Cohn, rencana Trump terhadap Greenland lebih didorong oleh kepentingan strategis Amerika Serikat, terutama terkait akses terhadap mineral penting dan keamanan kawasan Arktik.
Greenland diketahui memiliki cadangan mineral tanah jarang yang besar, meski hingga kini sebagian besar belum dimanfaatkan.
Cohn memperingatkan bahwa tindakan agresif terhadap Greenland akan melampaui batas.
Ia menekankan bahwa Greenland merupakan bagian dari wilayah NATO, sehingga upaya memaksa atau menyerang wilayah tersebut akan memicu masalah serius dalam aliansi militer internasional.
Baca juga: Seberapa Kaya Amerika Serikat Jika Jadi Mencaplok Greenland? Ternyata Menyimpan Harta Melimpah Ini
“Menyerang negara merdeka yang merupakan bagian dari NATO jelas berlebihan,” ujar Cohn dikutip melalui BBC News (20/1/2026).
Ia juga menyebut bahwa ada kesepakatan luas di kalangan politisi Amerika, baik dari Partai Republik maupun Demokrat, bahwa Greenland akan tetap mempertahankan statusnya.
Meski demikian, Cohn menilai Amerika Serikat tetap memiliki ruang untuk memperkuat kerja sama dengan Greenland.
Salah satunya melalui peningkatan kehadiran militer AS di kawasan tersebut, mengingat Samudra Atlantik Utara dan Samudra Arktik kini dipandang sebagai wilayah dengan ancaman militer yang semakin meningkat.
Selain itu, AS juga dapat menempuh jalur negosiasi ekonomi, seperti perjanjian pengambilan dan pengelolaan mineral tanah jarang.
Baca juga: Di Tengah Perang Ukraina, Trump Ajak Putin Urus Gaza
Cohn menduga pernyataan Trump yang terkesan berlebihan kemungkinan merupakan bagian dari strategi negosiasi.
Ia menilai Trump kerap menggunakan taktik menaikkan tuntutan untuk mendapatkan hasil kompromi yang lebih menguntungkan.
“Mungkin yang sebenarnya diinginkan adalah peningkatan kehadiran militer dan akses terhadap hasil produksi,” kata Cohn.
Isu Greenland turut membayangi pembukaan Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, tahun ini.
Baca juga: NATO Kerahkan Pasukan ke Greenland Lindungi dari Ancaman Trump, Rusia Ikut Siaga Satu
Banyak pemimpin politik dan bisnis menyatakan kekhawatiran terhadap dampak geopolitik dan ekonomi dari sikap agresif AS terhadap wilayah Arktik.
Cohn juga menyoroti pentingnya mineral tanah jarang bagi perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan komputasi kuantum.
Menurutnya, teknologi ini akan menjadi bagian dari setiap bisnis di masa depan, dengan AI dan komputasi kuantum bekerja di balik layar untuk meningkatkan efisiensi perusahaan.
“Perjalanan ini masih panjang, dan mungkin membutuhkan tiga hingga lima tahun lagi,” ujarnya.
Baca juga: Trump Ancam Tarif Negara Penentang Rencana Pengambilalihan Greenland
(Serambinews.com/Sri Anggun Oktaviana)
:format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/tausiah-9ijkl.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/greenland-09ik.jpg)