Mantan Ibu Negara Korea Selatan Kim Kyung-hee Dijatuhi Hukuman Penjara - Tribunnews
Mantan Ibu Negara Korea Selatan Kim Kyung-hee Dijatuhi Hukuman Penjara
Pengadilan Korea Selatan sebelumnya menjatuhkan hukuman 24 tahun penjara kepada mantan Presiden Park Geun-hye
Mantan Ibu Negara Korea Selatan Kim Kyung-hee Dijatuhi Hukuman Penjara
TRIBUNNEWS.COM - Kim Kyung-hee, mantan Ibu Negara Korea Selatan dan istri mantan Presiden Yoon Suk-yeol, dijatuhi hukuman satu tahun delapan bulan penjara dalam salah satu kasus korupsi yang menjeratnya.
Kim Kyung-hee menghadapi berbagai tuduhan, di antaranya:
- Memanipulasi harga saham Deutsche Motors antara tahun 2009 dan 2012
- Ikut campur dalam pemilihan parlemen 2022 dan 2024
- Menerima suap mewah seperti perhiasan dan tas tangan senilai lebih dari $200.000 dari pengusaha dan politisi.
Baca juga: Dokumen Pentagon Sarankan Militer AS Mundur Teratur Bantu Korea Selatan Hadapi Korea Utara
Pengadilan Distrik Pusat Seoul mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadapnya pada Agustus 2025 karena kekhawatiran tentang penghancuran bukti.
Kim meminta maaf dalam pemeriksaan tetapi membantah tuduhan tersebut.
Pada Desember 2025, pihak penuntut menuntut hukuman penjara 15 tahun.
Tetapi, hakim menjatuhkan hukuman satu tahun delapan bulan dalam satu kasus ini.
Adapun 16 tuntutan hukum lainnya, masih tertunda terkait perubahan rute jalan raya untuk kepentingan lahan keluarganya.
Ini bukan kali pertama mantan pejabat tinggi Korea Selatan dijatuhi hukuman.
Pengadilan Korea Selatan sebelumnya menjatuhkan hukuman 24 tahun penjara kepada mantan Presiden Park Geun-hye pada tahun 2018 atas tuduhan korupsi serupa, yang mencerminkan ketegasan sistem peradilan terhadap eksekutif.

Pemakzulan Yoon Suk Yeol
Yoon Suk Yeol dimakzulkan setelah dianggap melanggar Konstitusi dan hukum negara.
Pada tanggal 3 Desember 2024, ia mengumumkan status darurat militer, yang dinilai sebagai tindakan yang melanggar prinsip-prinsip demokrasi.
Selain itu, Yoon juga mengerahkan pasukan ke Majelis Nasional untuk menghentikan penolakan terhadap kebijakan yang diusulkannya dan bahkan memerintahkan penangkapan terhadap sejumlah politisi.
Penjabat Ketua Mahkamah Konstitusi, Moon Hyungbae, mengungkapkan bahwa tindakan Yoon merupakan pelanggaran serius terhadap hukum.
Ia menyatakan, “Mengingat dampak negatif yang serius dan konsekuensi luas dari pelanggaran konstitusional ini, kami memberhentikan Presiden Yoon Suk Yeol dari jabatannya.” Hal ini menunjukkan bahwa Yoon dianggap telah mengkhianati kepercayaan rakyat.
Apa Konsekuensi Pemakzulan Ini?
Dengan pemakzulan tersebut, Yoon kehilangan banyak hak istimewa yang sebelumnya dia miliki sebagai presiden.
Di antaranya:
- Uang Pensiun:
Yoon tidak lagi berhak atas uang pensiun yang mencapai 95 persen dari gaji presiden.
- Staf dan Asisten Resmi:
Yoon juga tidak akan mendapatkan staf atau asisten resmi.
- Hak Dimakamkan di Pemakaman Nasional:
Ia kehilangan hak untuk dimakamkan di Pemakaman Nasional Seoul.
- Kediaman Resmi:
Yoon harus mengosongkan kediaman resmi di Hannamdong tanpa batas waktu pasti.
Meski demikian, Yoon masih akan mendapatkan pengamanan dari negara berdasarkan undang-undang tentang perlakuan terhormat kepada mantan presiden, termasuk pengamanan untuk istrinya, Kim Keon Hee.
Bagaimana Reaksi Masyarakat Korea Selatan?
Setelah putusan pemakzulan dibacakan, reaksi masyarakat terbagi.
Para pedemo anti-Yoon bersorak gembira, sementara pendukungnya merasa terpukul hingga ada yang nekat membakar diri sebagai bentuk protes.
Dua orang pendukung dilaporkan tewas dalam insiden tersebut.
Sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat dan Prancis, mengeluarkan peringatan kepada warganya untuk menghindari lokasi-lokasi demonstrasi di Korea Selatan.
Apa Tanggapan Yoon Suk Yeol?
Melalui pengacaranya, Yoon menyampaikan permohonan maaf setelah putusan tersebut.
Ia menyatakan, “Saya sangat menyesal tidak dapat memenuhi harapan dan ekspektasi Anda.” Yoon juga mengungkapkan bahwa mengabdi kepada negara adalah kehormatan terbesar dalam hidupnya.
:format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Pemimpin-Tertinggi-Iran-Ayatollah-Ali-Khamenei-Buka-Suara.jpg)