0
News
    Home Amerika Serikat Berita China Dunia Internasional Featured Iran IRGC Rusia Selat Hormuz Spesial

    Iran-Rusia-China akan Latihan Militer di Selat Hormuz, AS Peringatkan IRGC Tentang Konsekuensi - T

    10 min read

     

    Iran-Rusia-China akan Latihan Militer di Selat Hormuz, AS Peringatkan IRGC Tentang Konsekuensi

    CENTCOM mendesak IRGC melaksanakan latihan angkatan laut di Selat Hormuz, dengan aman dan profesional.

    Ringkasan Berita:
    • CENTCOM mendesak IRGC melaksanakan latihan angkatan laut di Selat Hormuz, dengan aman dan profesional.
    • CENTCOM memperingatkan tentang konsekuensi dari perilaku yang tidak profesional.
    • Latihan ini menandai contoh pertama kerja sama pertahanan dalam kerangka BRICS.

    TRIBUNNEWS.COM - Latihan angkatan laut gabungan yang melibatkan IranChina, dan Rusia akan diadakan dalam beberapa hari mendatang di perairan Teluk Oman dan Selat Hormuz.

    Manuver tersebut secara luas dipandang sebagai hal yang signifikan, terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS).

    Selain itu, kini muncul spekulasi baru tentang potensi serangan militer AS terhadap Iran.

    Diberitakan WANA, latihan ini menandai contoh pertama kerja sama pertahanan dalam kerangka BRICS.

    BRICS adalah organisasi antar pemerintah yang terdiri dari 10 negara yakni Brasil, China, Mesir, Ethiopia, India, Indonesia, IranRusia, Afrika Selatan, dan Uni Emirat Arab.

    Latihan ini berfokus pada skenario seperti serangan maritim, pendaratan helikopter dari satu kapal ke kapal lain, penyelamatan kapal yang dibajak, latihan komunikasi, formasi armada taktis, dan evakuasi medis berbasis helikopter.

    Respons AS

    Komando Pusat AS (CENTCOM) mendesak Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) untuk melaksanakan latihan angkatan laut tembak langsung selama dua hari yang telah diumumkan di Selat Hormuz, dengan aman dan profesional.

    Menurut CENTCOM, Selat Hormuz adalah jalur laut internasional dan koridor perdagangan penting yang mendukung kemakmuran ekonomi regional, yang setiap harinya dilalui oleh sekitar 100 kapal dagang.

    Meski mengakui Iran memiliki hak untuk beroperasi di wilayah udara dan perairan internasional, CENTCOM memperingatkan tentang konsekuensi dari perilaku yang tidak profesional.

    “Segala bentuk perilaku yang tidak aman atau tidak profesional di dekat pasukan AS, mitra regional, atau kapal komersial meningkatkan risiko tabrakan, eskalasi, dan destabilisasi,” demikian pernyataan CENTCOM, Jumat (30/1/2026), dilansir Al Arabiya.

    CENTCOM menambahkan, mereka akan memastikan keselamatan personel, kapal, dan pesawat AS yang beroperasi di Timur Tengah.

    Baca juga: Zelenskyy: Ketegangan AS-Iran Ancam Perundingan Rusia-Ukraina

    “Kami tidak akan mentolerir tindakan IRGC yang tidak aman, termasuk terbang di atas kapal militer AS yang sedang melakukan operasi penerbangan, terbang rendah atau bersenjata di atas aset militer AS ketika niatnya tidak jelas, perahu berkecepatan tinggi yang mendekati kapal militer AS dengan jalur tabrakan, atau senjata yang diarahkan ke pasukan AS,” tambah pernyataan itu.

    Iran Siap Lakukan Pembicaraan 'Adil' dengan AS

    Iran siap melakukan pembicaraan yang “adil dan setara” dengan Amerika Serikat di tengah meningkatnya ketegangan.

    Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menolak untuk mengesampingkan kemungkinan mengambil tindakan militer terhadap Teheran.

    Dalam kunjungannya ke Turki pada Jumat, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan kepada wartawan bahwa, “Iran tidak memiliki masalah dengan negosiasi, tetapi negosiasi tidak dapat berlangsung di bawah bayang-bayang ancaman”.

    “Saya juga harus menyatakan dengan tegas bahwa kemampuan pertahanan dan rudal Iran – dan rudal-rudal Iran – tidak akan pernah menjadi subjek negosiasi apa pun,” kata Araghchi dalam konferensi pers bersama mitranya dari Turki, Hakan Fidan, dikutip dari Al Jazeera.

    “Keamanan rakyat Iran bukanlah urusan orang lain, dan kami akan mempertahankan serta memperluas kemampuan pertahanan kami hingga batas yang diperlukan untuk membela negara," jelasnya.

    Baca juga: Aktifkan Seribu Drone Strategis, Militer Iran: Banyak Pangkalan Amerika dalam Jangkauan Rudal Kami

    KEPULAN ASAP - Tangkap layar Khaberni, Rabu (28/1/2026) yang menunjukkan kepulan asap di sebuah lokasi di Iran. Suara ledakan dilaporkan terdengar di daerah Parchin dan Pakdasht di Teheran saat situasi memanas antara Iran dan Amerika Serikat.
    KEPULAN ASAP - Tangkap layar Khaberni, Rabu (28/1/2026) yang menunjukkan kepulan asap di sebuah lokasi di Iran. Suara ledakan dilaporkan terdengar di daerah Parchin dan Pakdasht di Teheran saat situasi memanas antara Iran dan Amerika Serikat. (HO/IST/Tangkap Layar/Khaberni)

    Ketegangan telah meningkat selama beberapa minggu antara Teheran dan Washington di tengah ancaman berulang Trump untuk menyerang Iran atas tindakan keras baru-baru ini terhadap protes anti-pemerintah dan upayanya untuk membatasi program nuklir Iran.

    Awal pekan ini, Trump mengatakan bahwa "armada besar" – yang dipimpin oleh kapal induk USS Abraham Lincoln – sedang bergerak menuju Iran dan siap menggunakan "kekerasan, jika perlu" jika para pemimpin Iran tidak setuju untuk menegosiasikan kesepakatan nuklir.

    Berbicara kepada wartawan di Gedung Putih pada Jumat, Trump mengatakan pemerintahannya mengirimkan "sejumlah besar kapal" ke Iran.

    “Dan mudah-mudahan kita akan mencapai kesepakatan,” katanya.

    “Jika kita mencapai kesepakatan, itu bagus. Jika kita tidak mencapai kesepakatan, kita lihat saja apa yang terjadi," lanjutnya.

    Baca juga: AS–Iran Kembali Memanas, Apa yang Sebenarnya Diperebutkan?

    Trump, yang pada tahun 2018 secara sepihak menarik diri dari kesepakatan sebelumnya yang membuat Iran setuju untuk membatasi program nuklirnya sebagai imbalan atas pencabutan sanksi internasional, telah menekan Iran untuk menghentikan semua pengayaan uranium.

    Washington menuduh Teheran berupaya mengembangkan senjata nuklir – sebuah tuduhan yang berulang kali dibantah oleh para pemimpin Iran.

    Di tengah ketegangan terbaru, para pejabat senior di Teheran berulang kali mengatakan bahwa mereka terbuka untuk negosiasi, tetapi hanya setelah Trump mengakhiri ancaman militernya terhadap negara tersebut.

    Mereka juga menekankan bahwa angkatan bersenjata Iran siap merespons jika diserang.

    Sementara itu, sekutu regional termasuk Turki, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi telah terlibat dalam upaya diplomatik untuk mencoba mencegah konfrontasi militer antara Washington dan Teheran.

    Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sebelumnya pada Jumat mengatakan kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam sebuah panggilan telepon bahwa Ankara siap memainkan peran sebagai "fasilitator" antara kedua belah pihak.

    (Tribunnews.com/Nuryanti)

    Berita lain terkait Iran Vs Amerika Memanas


    Komentar
    Additional JS