0
News
    Home Berita Dunia Internasional Featured Kesehatan Spesial

    Bayi Ajaib Lahir di Atas Pohon Saat Banjir Bandang, Bertahan Hidup hingga 25 Tahun - Kompas

    7 min read

     

    Bayi Ajaib Lahir di Atas Pohon Saat Banjir Bandang, Bertahan Hidup hingga 25 Tahun

    MAPUTO, KOMPAS.com – Rosita Salvador Mabuiango, perempuan Mozambik yang dikenal dunia sebagai “bayi ajaib” karena lahir di atas pohon saat banjir besar tahun 2000, meninggal dunia setelah menderita sakit berkepanjangan.

    Kabar duka itu disampaikan keluarganya kepada BBC pada Senin (12/1/2026). Rosita wafat di usia 25 tahun, setelah kelahirannya menjadi simbol tragedi banjir terburuk dalam sejarah Mozambik.

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

    Presiden Mozambik Daniel Chapo menyebut Rosita sebagai simbol harapan bagi anak perempuan di negaranya.

    Baca juga: Negara-negara Arab Heran Indonesia Tolak Bantuan Asing untuk Banjir Sumatera

    Lahir di tengah banjir terburuk Mozambik

    Rosita lahir pada Februari 2000, ketika Sungai Limpopo meluap dan menyebabkan ratusan orang tewas serta ratusan ribu lainnya kehilangan tempat tinggal di wilayah selatan Mozambik.

    Bumi Dihantam Radiasi Badai Matahari Terparah dalam 20 Tahun Terakhir

    Ibunya, Carolina Cecilia Chirindza, termasuk di antara warga yang terjebak banjir dan terpaksa menyelamatkan diri dengan memanjat pohon.

    “Minggu sore sekitar jam empat, air mulai naik,” kata Carolina, seperti dikutip Palang Merah pada 2000.

    “Air sudah sampai ke rumah dan makin deras, jadi seperti warga desa lainnya, kami menuju ke pohon,” imbuhnya.

    Ia menceritakan betapa sulitnya bertahan hidup saat itu. “Saya menggendong dua anak kecil dan mencoba memanjat. Sangat sulit. Kami ada 15 orang dan bertahan di sana selama empat hari. Kami berdoa terus. Tidak ada makanan, anak-anak terus menangis, tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa.”

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

    Pada Rabu dini hari, Carolina melahirkan di atas pohon. Tak lama kemudian, ia dan bayi yang baru lahir terlihat oleh helikopter militer Afrika Selatan yang terlibat dalam operasi penyelamatan.

    Laporan media menyebutkan, saat melahirkan, ibu mertua Carolina menahan kain capulana di bawahnya agar bayi tidak jatuh ke air banjir, dan Rosita masih terhubung dengan tali pusar saat ditemukan.

    “Saya rasa bayi saya berbeda dari bayi lain karena dia lahir di atas pohon, dan karena ini adalah kehendak Tuhan agar dia hidup dan melewati situasi ini,” ujar Carolina kala itu.

    Simbol harapan

    Kisah Carolina dan Rosita menjadi gambaran ikonik dari dampak banjir 2000. Keduanya bahkan sempat melakukan perjalanan ke Amerika Serikat pada tahun yang sama untuk berbicara di hadapan Kongres dan meningkatkan kesadaran internasional tentang tragedi tersebut.

    Rosita kemudian tumbuh besar di Chibuto, daerah pedesaan tempat ia dilahirkan, dan lulus sekolah menengah atas di sana.

     Ia juga memiliki seorang anak perempuan yang lahir lima tahun lalu. Namun, keluarganya menyebut Rosita gagal memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi teknik petrokimia, meski pemerintah sebelumnya menjanjikan pendanaan pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi.

    Baca juga: Media Asing Soroti Langkah Indonesia Cabut 22 Izin Kehutanan Usai Banjir Sumatera

    Penyakit Rosita

    Kakak Rosita, Celia Salvador, mengonfirmasi kematian adiknya kepada BBC.

    “Dia meninggal setelah sakit berkepanjangan. Saya sangat sedih. Dia meninggal karena penyakit yang tidak bisa saya jelaskan,” ujarnya.

    Sumber keluarga lain menyebut Rosita telah lama berjuang melawan anemia, gangguan darah yang memperburuk kondisinya.

    Ia dirawat di rumah sakit selama lebih dari dua minggu sebelum akhirnya meninggal pada Senin pagi.

    Ibunya juga mengatakan kepada stasiun televisi lokal bahwa Rosita selain menderita anemia, juga mengidap tuberkulosis.

    Presiden Daniel Chapo menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Rosita.

    “Ya Tuhan. Kabar yang sangat buruk. Saya menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan,” katanya kepada BBC.

    “Dia adalah simbol bagi anak perempuan di Mozambik. Karena itu, saya menyampaikan belasungkawa kepada seluruh rakyat Mozambik, khususnya anak-anak perempuan Mozambik.”

    Sorotan pada sistem kesehatan Mozambik

    Analis politik Charles Mangwiro menilai kematian Rosita sebagai peringatan keras bagi pemerintah.

    Menurutnya, peristiwa ini menjadi “panggilan bangun bagi pemerintah untuk meningkatkan layanan di seluruh sistem kesehatan di negara ini”.

    “Tidak mungkin berharap bisa bertahan hidup ketika tenaga kesehatan setiap hari mengeluhkan gaji yang tidak dibayar selama berbulan-bulan serta kekurangan kebutuhan dasar seperti alat pelindung dan antibiotik,” ujarnya.

    Meski pemerintah telah merekrut lebih banyak tenaga kesehatan dalam beberapa tahun terakhir, para analis masih menggambarkan sistem kesehatan Mozambik sebagai sistem yang kewalahan dan kekurangan obat-obatan serta peralatan dasar.

    Wali Kota Chibuto, Henriques Machava, mengatakan kepada pers bahwa pihaknya tengah berdiskusi dengan keluarga Rosita untuk memformalkan pengaturan pemakaman, yang menurutnya akan ditangani oleh pemerintah kota.

    Baca juga: Banjir Bandang Terjang Jeddah Arab Saudi, Jalanan Berubah Bak Sungai

    Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang

    Komentar
    Additional JS